pembangunan sistem top down

pembangunan gedung sistem top down yaitu pembanguan gedung yang dimulai dari atas (permukaan tanah) sampai ke basement paling bawah.
 Metode top-down tidak dimulai dari lantai basement paling bawah (dasar galian). Tepatnya, titik awal pekerjaan dimulai dari pelat lantai satu (ground level atau muka tanah). Pelaksanaan struktur bawah dilakukan dari basement yang teratas dan dilanjutkan lapis demi lapis sampai kedalaman basement yang diinginkan yang bersamaan dengan pekerjaan galian basement. Pekerjaan struktur bawah ini bisa simultan dengan pekerjaan struktur atas. Hal ini menyebabkan waktu pelaksanaan menjadi lebih singkat.

Skema
  1. Tahap pertama pemasangan diafragma wall dilakukan untuk membatasi luasan basement yang akan di buat. Diafragma wall yaitu dinding yang dibuat dari tanah yang di gali memanjang  seperti parit sedalam basement yang akan di buat, rangka besi dan beton segar di masukan ke dalam parit yang telah di gali tersebut. Diafragma wall di buat sekeliling basement.




Gambar 1.8  foto lapangan diafragma wall 
 2.  Tahap kedua pemasangan bore pile di tambah dengan inti ( king post).Bore pile ini yang            nantinya  akan menjadi cikal bakal kolom dari basemen. King post adalah baja Wide                  Flange. King post dapat juga di artikan inti dari kolom sebuah basement






Gambar 4.10 lingkaran merah menandai posisi King Post

3.        Tahap ketiga pemasangan plat lantai di permukaan tanah.Pemasangan plat lantai terintegrasi dengan king post dan tulangan bore pile. Tebal plat lantai di perkirakan mencapai 30 cm. Tulangan pada plat lantai di hubungkan dengan tulangan yang ada pada bore pile.



Gambar 4.10   foto lapangan plat lantai


4.         Tahap keempat di lakukan penggalian tanah hingga mencapai kedalaman basement dua menggunakan eskapator. Penggalian mencapai kedalaman 10 meter. Sebelumnya telah terpasang di bagian luar diafragma wall berupa alat pendeteksi pergeseran tanah (inklinometer) sehingga perubahan perubahan kelakuan tanah bisa di deteksi sedari awal.


Gambar 4.11  penggalian basement satu dan dua

5.      Tahap ke lima di lakukan pemasangan plat lantai pada basement dua. Ketebalan plat lantai mencapai 30 cm. Plat lantai sendiri terhubung dengan bore pile dan Diafragma wall  .Bore pile  di buang bagian semennya (cipping) kemudian besi rangka yang ada pada bore pile di sambung dengan besi rangka yang ada pada plat lantai. Sedangkan antara sambungan plat lantai dengan diafragma wall di tancapkan besi (anchor) dengan cara di bor dan di beri sejenis zat kimia seperti lem (chemichal anchor) . Kemudian 2 persen dari jumlah chemical anchor di tes dengan cara di regang


Gambar 4.12 pemasangan plat lantai pada basemen dua


6.    Tahap ke enam penggalian tahap kedua di lakukan, pada tahap ini baru di lakukan pengecekan ketat terhadap perubahan perilaku  diafragma wall dikarenakan perubahan struktur tanah akibat penggalian, pengecekan  menggunakan inklinoment. Pengecekan terhadap tekanan air menggunakan pziometer .Pengecekan-pengecekan tersebut dinamakan instrument.


Gambar 4.13 Penggalian tahap ke dua pada basement ke 4


7.      Tahap ke tujuh adalah pemasangan raft pondasi pada basement ke empat atau pada basement paling bawah. Pada tahap ini mutu beton yang digunakan yaitu fc 30 .


Gambar 4.14 Pemasangan raft pondasi pada basement ke empat


8.       Tahap ke delapan pemasangan kolom pada basement ke dua. Beton dan tulangan yang ada pada bore pile di buang, kingpos pada bore pile di bersihkan dari sisa sisa beton  kemudian kingpos di beri tulangan kolom. Bekisting untuk membuat cetakan kolom di pasang sedemikian rupa, pengecoran kolorm di lakukan dengan mutu beton fc 55.


Gambar 4.15 pemasangan kolom basement ke dua

9.      Tahap ke sembilan pemasangan plat lantai basement satu. Pada tahap ini pengecekan terhadap keadan tanah tetap harus tetap di lakukan karena bisa saja terjadi pergerakan tanah secara tiba-tiba karena pengaruh air tanah yang ada pada sisi luar diafragma wall. Sedangkan pemasangan plat lantai sama dengan pemasangan plat lantai sebelumnya.


Gambar 4.15 pemasangan plat lantai basement ke satu

10.    Tahap ke sepuluh pemasangan kolom pada basement pertama .Pemasangan kolom di lakukan dari atas, agar kolom di basement paling bawah tidak mengalami gaya aksial akibat berat basement itu sendiri. Gaya aksial (Gaya normal) basement di tahan oleh king post pada bore pile. Beton dan tulangan pada bore pile awalnya di buang. Kemudian kingpos yang ada pada bore pile di beri tulangan kolom baru dan dilakukan pengececoran kolom. Mutu beton yang digunakan fc 55 screening, screening yaitu beton dengan split ukuran maksimal 100 mm sedangkan beton normal menggunakan split ukuran maksimal 250 mm

Gambar 4.16 pemasangan kolom basement pertama



11.    Tahap ke sebelas yaitu pemasangan kolom pada basement ke empat. Pada tahap ini cara pemasangan tetap sama dengan kolom sebelumnya, yaitu beton dan tulangan yang ada pada bore pile di buang sampai tingggal kingposnya. Kemudian kingpos di beri tulangan dan di beri bekisting . pengecoran pun di lakukan dengan mutu beton fc 55 screening.


Gambar 4.18 pemasangan kolom pada basement ke empat

12.     Tahap ke dua belas yaitu pemasangan plat lantai  pada basement ke tiga. Pada tahap ini pemasangan plat lantai sama dengan pemasangan plat lantai sebelumnya. Tetap menggunakan mutu beton fc 45. Pengawasan terhadap mutu beton di lakukan dengan tes slump dengan kerucut abram, sampel untuk tes kuat tekan di ambil sewaktu truk mixer datang ke lokasi proyek. Pengujian sampel di lakukan oleh penyedia beton itu sendiri (P , perusahaan penguji beton independen (  dan labor beton  teknik sipil Unversitas yang terakreditasi
.

Gambar 4.19 pemasangan plat lantai pada basement ke empat

13.  Tahap ke tiga belas yaitu pemasangan kolom pada basement ke tiga .Pada tahap ini sama dengan tahap ke 10 yaitu di gunakan mutu beton fc 55 screening. Screening yaitu beton yang mempunyai split ukuran maksimal 100 mm.


Gambar 4.20 pemasangan kolom basement tiga
Diatas merukapakan skema skema pembangunan sistem topdown. Diantara permasalahan yang sering timbul yaitu suhu beton yang sangat panas dikarenakan ukuran beton yang besar dan mutu yang sangat tinggi fc 55. Kadangkala mencapai 80 derajat celcius di tambah dengan ruangan bawah tanah yang panas 
Dengan keaadaan demikian kolom  yang baru selesai di cordan di lepas bekistingnya beresiko mengalami kehilangan air semen yang bisa mengakibatkan beton menjadi tidak sempurna mengeras karena beton telah kehilangan air semen sejak dini akibat penguapan yang berlebihan. Resiko yang lainya  jika suhu beton bagian dalam dan suhu beton pada permukaan jika berbeda melebihi 20 derajat celcius maka secara teoritis akan terjadi retak besar .
Maka solusi dari panasnya suhu pada beton yaitu dengan melapisi beton dengan karung goni atau plastik dan di siram secara berkala . jika beton yang berukuran besar maka permukaan beton di oles dengan sejenis zat kimia bernama “SIKA CURRING COUMPOND” pengolesan dilakukan secara berkala sesuai petunjuk
Detail skema pengecoran kolom Top Down tahap 10 dan 13 . Pemasangan bekisting pada kolom tidak di pasang benar benar menempel pada slab atas  melainkan di buat berjarak antara bekisting dengan slab bagian atas dengan jarak 5-10 cm. Pengecoran di lakukan menggunakan fc 55 screening . Screening yaitu split berukuran max 10mm sedangkan split normal max 250 mm. 
Setelah kolom mengeras, bekisting kolom di lepas. Kepala kolom di bekisting dan di injeksi dengan sika grouting. Sika grouting seperti  bubuk halus yang berfungsi sama seperti semen. Sika grouting  tidak mengalami penyusutan (sringkage). Kekuatan sika grouting mencapai Fc 70.
Berikut skema pengecoran kolom sistem top down.

                     1     

                                                           2
 

Gambar 4.20  skema pembetonan kolom b1 dan b3

Keunggulan sistem Top Down
1.     Sistem top down secara teoritis hampir semua kolom-kolom pada Basement mengalami pembebanan yang hampir sama karna kolom di buat dari atas ke bawah.Sehinga kolom Basement  paling bawah mendapat pembagian beban yang hampir sama dengan kolom Basement bagian atas akibat beban struktur atas. Maka dimensi kolom-kolom bisa di perkecil. Sedangkan berat kolom sendiri di topang oleh king post.
2.    luas lahan yang di butuhkan hampir sama dengan luas proyek.karna semua bahan,Semua Truck Mixer,Mobile crane bisa di tempatkan di atas plat lantai sewaktu pembuatan Basement. Sedangkan pembangunan ke atas tidak begitu membutuhkan tempat.



Gambar 4.22 Hampir semua bahan dan bisa di tempatkan di plat lantai



3.      Pembangunan bisa lebih cepat karna kolom dan plat lantai bisa di bangun secara bersamaan, bahkan basement dan struktur atas bisa di bangun secara berasamaan

4.      Dengan sisi luar yang tidak digali maka secara toritis Momen putar pada basement dapat di tahan  oleh gaya aktif tanah sehingga bangunan tambahan Di sisi (podium)bisa dikatakan tidak di butuhkan lagi .Sehingga bangunan terkesan ramping. 

Comments